Artikel Baru

Jual Mesin Perajang Tembakau - Alat Pemotong Daun Tembakau

Jual Mesin Perajang Tembakau

harga jual alat mesin perajang tembakau, harga mesin rajang tembakau otomatis, harga mesin pemotong tembakau terbaru, jual mesin perajang tembakau, mesin perajang tembakau sederhana, cara membuat mesin perajang tembakau, harga mesin perajang tembakau lumajang, mesin perajang tembakau terbaru, mesin rajang tembakau otomatis.


Mesin Perajang Tembakau Terbaru


VIDEO MESIN PERAJANG DAUN TEMBAKAU


FUNGSI : MERAJANG DAUN TEMBAKAU UNTUK BAHAN BAKU ROKOK, MERAJANG TEMBAKAU MENJADI BAGIAN KECIL SESUAI KRITERIA PABRIK. MEMOTONG DENGAN CEPAT DAN MUDAH DIOPERASIKAN.


Alat Pemotong tembakau menjadi mudah
Alat Pemotong tembakau menjadi mudah




SPESIFIKASI MESIN PERAJANG TEMBAKAU

SPSIFIKASI
DIMENSI                          800MM X 650MM X 1000 MM

MATERIAL                       : MILD STEEL

TENAGA PENGERAK    : MOTOR LISTRIK 1/ 2 HP
JUMLAH PISAU              : 1 PISAU
KAPASITAS                     : 300 – 500 KG/ JAM
TRANSMISI                     : PULLEY DAN V-BELT




________________________________________________________________________________

Cara Melembapkan Tembakau Kering

1. Melembapkan dengan Panas
A. Gunakan cerek teh. Carilah cerek yang dapat dipasangi saringan. Masukkan air mendidih ke dalam cerek tersebut, kemudian letakkan tembakau di dalam saringan. Berhati-hatilah, jangan sampai tembakau menyentuh air di dalam cerek. Tutup cerek kemudian tinggalkan selama setidaknya setengah jam.
Setelah setengah jam, lihat apakah tembakau sudah kembali lembap. Jika belum, tinggalkan sedikit lebih lama lagi.
B. Lembapkan dengan setrika uap. Panaskan setrika uap hingga temperatur maksimum. Gelar selembar koran di atas permukaan yang tahan panas. Hamparkan tembakau Anda di atas koran tersebut. Kemudian, gunakan semprotan untuk menyemprot tembakau dengan air sekali atau dua kali.
Pegang setrika uap di atas tembakau dan biarkan menguap selama 10 detik.
Berhati-hatilah, jangan sampai besi setrika menyentuh tembakau.
C. Panaskan dengan stoples kedap udara. Masukkan tembakau ke dalam mangkuk baja antikarat bersih. Basahi tembakau dengan semprotan air, kemudian semprotkan kembali air di atas tembakau 3-4 kali. Aduk tembakau dengan sendok atau spatula. Kemudian, masukkan tembakau ini ke dalam stoples dengan tutup karet berulir.
Panaskan stoples ini di dalam oven dengan temperatur 100 derajat Celsius selama setidaknya 20 menit atau hingga stoples terasa panas disentuh. Setelah selesai, biarkan selama 10 menit.
Keluarkan stoples dan biarkan dingin semalaman di tempat yang dingin dan kering. Jangan buka hingga esok pagi.
Pastikan Anda menekan-nekan tembakau hingga padat dan menutup stoples dengan erat.

2. Melembapkan dengan Makanan
A. Lembapkan tembakau dengan kulit jeruk. Masukkan tembakau dalam sebuah kantong plastik atau stoples dengan tutup yang rapat dan kedap udara. Tambahkan 1/4 potongan kulit jeruk ke dalam kantong. Tutup kantong hingga rapat dan tinggalkan semalaman.
Di pagi hari, kulit jeruk akan mengalami dehidrasi dan tembakau Anda akan kembali lembap
B. Gunakan kentang. Masukkan tembakau dalam kantong plastik. Tambahkan sebuah kentang mentah. Ikat kantung hingga kedap udara. Cek setiap satu atau dua jam karena tembakau akan kembali lembap dengan segera.
C. Lembapkan dengan roti. Masukkan tembakau ke dalam kantong plastik. Kemudian, masukkan satu atau setengah potong roti, tergantung jumlah tembakau. Tutup rapat kantong plastik dan cek setiap beberapa jam.
Apabila ditinggalkan semalaman, tembakau akan sangat lembap keesokan harinya.

3. Melembapkan dengan Benda Lembap
A. Simpan tembakau dalam kantong plastik klip. Hamparkan sekitar setengah jumlah tembakau yang hendak Anda lembapkan secara merata di atas sebuah tisu besar. Semprot tembakau dengan air. Campur tembakau dengan jari Anda. Ulangi hingga tembakau sedikit lembap. Campurkan tembakau lembap dengan tembakau tidak lembap di dalam sebuah kantung plastik klip. Agar tercampur rata, kocoklah kantong yang Anda gunakan. Tunggu sekitar setengah jam hingga kelembapannya merata.
B. Tutupi dengan kain. Masukkan tembakau ke dalam sebuah mangkuk (lebih lebar lebih baik). Tutupi mangkuk itu dengan kain yang lembap (tetapi tidak terlalu basah). Jangan sampai kain ini menyentuh tembakau. Agar kain tidak sampai menyentuh tembakau, rapatkanlah sisi-sisinya dengan karet gelang. Cek tembakau setiap beberapa jam. Metode ini adalah metode yang paling tidak mengganggu kualitas tembakau.
C. Lembapkan dengan spons. Siapkan spons yang baru dan sama sekali belum dipakai, kemudian potong sedikit sudutnya. Lembapkan spons dengan air. Keluarkan semua air yang berlebih dan pastikan air tidak menetes dari spons. Masukkan spons lembap itu ke dalam sebuah kantong plastik klip bersama dengan tembakau. Busa spons lembap itu akan menjadi alat pelembap tembakau.

Rokok Lintingan Itu Harus Mbekok!

Di kalangan perokok di daerah saya, terutama para petani di pedesaan Banyumas, cita rasa tembakau rajangan dari ke empat daerah itu dikenal ciamik. Para penggemar “cerutu kampung” alias rokok lintingan itu menamakannya “mbekok”.

Ibaratnya kalau seseorang makan siang dan perutnya terasa kenyang, dan pita suara di kerongkongan sampai mengeluarkan suara, itu disebut “nendang”. Mbekok itu membuat dada perokok serasa ada palu godam yang memukulnya. “Harus sampai terasa deg, itu baru disebut mbekok.” Nah, kurang lebih begitulah gambaran kepuasan para petani ketika mengisap dalam-dalam “cerutu kampung” itu.

Tak heran jika pada masa itu, walau ekspansi rokok kretek sudah luas, dan mereka banyak memberi iming-iming hadiah berupa peralatan rumah tangga ketika melakukan promosi di alun-alun pada malam hari yang terkadang juga disertai pemutaran film bisu, namun minat untuk merokok kretek masih rendah. “Rokok kretek rasanya terlalu ringan, nggak puas rasanya”, begitu alasan yang saya dengar. Tak heran ayah saya kalau bepergian ke luar kota, walau di sakunya ada rokok kretek, namun jika rekanan yang dikunjungi menyediakan tembakau rajangan dan kemenyan, beliau lebih suka memilih mematikan rokok kretek dan melinting tembakau yang disediakan tuan rumah.

Namun walau kedua orangtua jualan tembakau, ayah dan abang saya juga perokok berat, namun saya sendiri bukan perokok, bahkan sampai sekarang. Memang sekali-sekali pernah juga ikut melinting dan mengisapnya, namun karena hanya rasa pahit yang terasa dan malahan jadi tersedak, maka saya putuskan untuk tak dilanjutkan. Memang susah kalau sudah soal rasa atau selera.

Diracik dengan Kemenyan, Klembak dan Wuwur

Rokok klinting itu sendiri biasanya berupa tembakau rajangan yang dibungkus selembar kertas tipis seukuran sekitar 6×10 centimeter. Orang Banyumas menyebutnya papir. Inilah bungkus rokok lintingan paling terkenal saat itu. Disamping itu ada kawung, atau klaras jagung istilah Banyumasannya. Klaras jagung atau kawung itu daun jagung yang telah dikeringkan dan digunakan untuk melinting tembakau garangan.

Tembakau garangan ini bentuknya seperti wajik berpetak-petak, warnanya hitam pekat, dengan ketebalan sekitar lima centimeter. Namun penggemar tembakau rajangan waktu itu sangat terbatas, dibanding tembakau rajangan yang dilinting dengan papir itu.

Sebutan papir mungkin berasal dari bahasa Inggris paper. Mungkin karena lidah orang Banyumas susah melafalkan “piper”, maka untuk mudahnya mereka melafalkan sebagai “papir”.

Kertas papir itu ada dua jenis rasanya. yang satu tawar dan yang lain manis. Namun perokok klinting umumnya lebih suka memakai papir tanpa rasa. Satu pak papir berisi 20-40 lembar papir. Papir yang terkenal waktu itu bermerk “Sinden” karena kertas pembungkus luarnya memang ada gambar seorang pesinden. Sedangkan kawung biasanya digunakan untuk tembakau.

Tembakau rajangan yang sudah digelar di atas papir umumnya ditambah kemenyan yang sudah dijadikan remah-remah, terkadang ada juga yang menambahkan dengan remah-remah klembak. Klembak adalah akar dari tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan untuk bahan wewangian. Bentuk, besar dan panjangnya seperti ruas jari telunjuk orang dewasa. Warnanya coklat tua. Para perokok biasanya menggunakan pisau kecil, atau kuku jari jempol untuk mengopek kelembak. Biar rasa rokok lintingan menggigit ujung lidah, maka perokok lintingan juga kerap mencampurnya dengan wuwur, ini daun cengkeh yang telah ditumbuk halus.

Baru setelah itu, tembakau bersama kemenyan, wuwur dan klembak dilinting.. Jadilah rokok lintingan. Kemenyan itu fungsinya supaya api rokok tidak gampang mati, disamping untuk menambah cita rasa seperti juga fungsi klembak. Juga untuk menimbulkan aroma wangi. Konon para petani di sawah bisa bertahan berjam-jam bekerja tanpa merasa lapar jika rokok lintingan yang diisapnya “mbekok”.

Pada masa jayanya, di Banyumas banyak pedagang tembakau rajangan yang menjual barang dagangan mereka di pasar-pasar tradisional. Kedua orangtua saya almarhum, termasuk diantara mereka. Mereka berdagang tembakau sudah sejak 1970, waktu itu saya sudah duduk di bangku TK di kampung saya, Ajibarang. Para pedagang tembakau rajangan itu mengambil tembakau langsung dari para pedagang pengumpul di keempat daerah tersebut, yang umumnya aktif menawarkan ke sejumlah pedagang pengecer. Orangtua saya menyebut mereka “orang wetan”.

Wetan itu artinya timur. Memang secara geografis keempat kota penghasil tembakau rajangan itu terletak di sebelah timur kabupaten Banyumas. Sebutan orang wetan juga karena dialek bahasa Jawa mereka yang terdengar halus, seperti gaya bahasa Jawa orang Solo, berbeda dengan bahasa Banyumasan yang ngapak-ngapak dan terdengar kasar di telinga.

Pada masa itu, tembakau rajangan dikirim dalam bentuk keranjangan, atau disebut bal-balan. Keranjang itu terbuat dari anyaman bambu dan dibungkus kulit pohon pisang yang telah dijemur dan dikeringkan. Orang Banyumas menyebutnya gedebogan pisang. Fungsi gedebogan untuk membuat tembakau tetap lemas atau lembut selama beberapa hari. Jika tembakau kering, maka harganya menjadi sangat murah.

Nah keranjang bekas pembungkus tembakau itu, jika batang-batang bambunya kokoh, maka dapat difungsikan untuk kandang ayam atau burung dara. Sedangkan debogan batang pisang yang kering itu dijadikan bahan bakar di pawon untuk pengganti kayu bakar. Pawon adalah tungku yang terbuat dari tanah liat yang digunakan sebagai tempat menaruh teko, dandang atau panci untuk kegiatan masak-memasak sebelum era penggunaan kompor.

Satu keranjang tembakau beratnya rata-rata 50 – 60 kg. Tapi terkadang ada yang mencapai 80 kg bahkan 100 kg. Tembakau-tembakau itu dikirim dengan menggunakan truk. Satu truk bisa memuat sampai 50 keranjang. Begitu truk sampai ke tempat pengiriman, maka puluhan kuli angkut, disebut juga “kuli tagog”, dengan menggunakan pundak atau bahu mereka yang kokoh dan kekar berebut untuk menurunkan dan memasukan keranjang tembakau ke gudang milik pedagang tembakau. Pedagang tembakau, biasanya akan menggunakan daun jati untuk melapisi tembakau-tembakau setelah keranjang tembakau dibuka.

Daun Jati untuk Memerahkan Tembakau


Pada tahun 1970-an pohon jati masih banyak terdapat di hutan-hutan yang ada di daerah Tipar, sebuah kawasan hutan yang terletak sekitar 10 kilometer arah selatan Ajibarang ke Kota Cilacap, sebuah kota nelayan yang juga dikenal berdekatan dengan Pulau Nusakambangan. Inilah pulau di tengah laut dimana terdapat penjara terkenal karena dihuni penjahat-penjahat kakap.

Daun jati banyak dipakai untuk membungkus tembakau agar warna tembakau menjadi semakin merah kehitaman. Daun-daun jati itu sendiri dibeli dari para pemetik daun jati, yang menjualnya secara kiloan. Satu ikat daun jati beratnya mencapai 20-30 kg. Saya masih ingat, ketika SD, bersama beberapa teman sekampung, pada pukul 04.00 dini hari, kami sering lari pagi ke arah kawasan hutan jati itu. Kabut pagi biasanya selalu menyergap kami. Nah, dalam keremangan kabut pagi itu, kami sering menyaksikan beberapa penjual daun jati tengah memanggul gulungan daun jati.

Para pemetik daun jati itu jalan berbaris menuju ke pasar tradisional Ajibarang untuk menjual dagangan mereka. Pada waktu itu, daun jati memang tak hanya dimanfaatkan untuk tembakau, tapi juga banyak digunakan sebagai pembungkus barang-barang sembako, termasuk daging sapi. Penggunaan kantong plastik waktu itu memang belum dikenal.
Begitulah sejarah ingatan saya terhadap “cerutu rakyat” alias rokok lintingan yang dalam pemahaman saya, telah menimbulkan mata rantai perdagangan yang cukup panjang. Ada pedagang kemenyan, klembak industri papir, pengrajin wuwur daun cengkeh, kuli angkut, pengrajin keranjang, pedagang daun jati sampai pedagang sirih. Perdagangan ala rakyat itu berdenyut karena jasa para petani tembakau!
Tentu, saya sekarang ini, saya sudah tak lagi tahu keberadaan mereka. (Sumber)


Teknik Penyimpanan Rokok Yang Benar :

  • Simpan ditempat yang kering / tidak lembab. Tempat yang lembab menyebabkan pertumbuhan jamur.
  • Hindari penyimpanan yang dekat dengan bahan – bahan kimia. Senyawa kimia disekitar tempat penyimpanan dapat meresap ke dalam tembakau.
  • Hati – hati saat melakukan perenggangan tembakau. Biasanya konsumen rokok SKT merenggangkan tembakau yang padat dengan cara memijatnya. Kuku yang panjang bisa menyebabkan kertas pembungkus robek.

Rumitnya Proses Mengolah Tembakau

Mengolah hasil tembakau tidaklah semudah dan sesederhana seperti hasil panen tanaman lain seperti padi, jagung ataupun sayuran lainnya. Diperlukan waktu panjang, ketelatenan dan juga kesabaran. Berikut beberapa langkah dari petani dan penggarap sebelum mereka bisa meraup untung dari hasil panen tahunan tembakau ini.

1.Pemupukkan.
Langkah awal ini dilakukan sesaat sebelum menanam benih dan sesudah benih ditanam

2. Panen
Kira-kira 3 bulan, dimulailah panen pertama pada daun tembakau. Memanen daun tembakau tidaklah mudah, haruslah bertahap dari daun paling bawah hingga daun paling atas, dan itu memakan waktu yang tidak sebentar. Dari memanen daun pertama sampai daun terakhir dibutuhkan waktu antara 4sampai dengan 4,5 bulan. Karena dalam satu batang pohon, daun tembakau dibagi dalam beberapa grid atau tingkatan. Tiap tingkatan itu menandakan kwalitas daun( petani Temanggung menyebut totol) dan biasanya itu terlihat dari warna dan teraba dari aromanya. Untuk aroma memang hanya orang tertentu saja yang bisa menentukan apakah aromanya cukup atau kurang. Dan semakin keatas, kwalitas daun akan semakin tinggi dan hargapun semakin mahal.
a.Kwalitas A (Totol A) daun berwarna hijau, biasanya umur sekitat 3 bulan bisa mulai dipanen.
b.Kwalitas B (Totol B) daun berwarna hijau tapi sudah mulai terlihat warna kuning diantaranya
c.Kwalitas C (Totol C) daun berwarna kuning saja.
d.Kwalitas D (Totol D) daun berwarna kuning agak kemerahan
e.Kwalitas E (Totol E) daunberwarna merah namun masih ada semburat kuningnya
f.Kwalitas F (Totol F) daun berwarna kemerahan
g.Kwalitas G (Totol G) daun berwarna merah atau yang disebut juga mbako Srinthil (tembakau dengan kwalitas paling bagus dan berharga sangat mahal)

Sebenarnya Totol F dan G hampir sama warna daunnya yang membedakan hanyalah pada proses memperamnya dikemudian hari. Karena setelah dipanen, daun tembakau tidak bisa lantas diolah, harus melalui proses memperamnya (biasa disebut daun imbon atau daun yang telah di imbu). Dan tiap Totol, proses memperamnya pun berbeda-beda Totol A diperam 2 hari, B diperam 3 hari,C diperam 4/5 hari,D diperam 6/7 hari,E dan F maksimal diperam 9 hari. Adapun dalam memperam itupun haruslah tepat waktu, tidak boleh berkurang ataupun berlebih karena akan menentukan kematangan dan kebusukan daun.

3.Merajang
Sekarang para petani/penggarap tembakau telah dimudahkan dengan mesin pengrajang tembakau yang super cepat. Dibandingkan dulu yang merajang dengan system manual layaknya seorang yang merajang sayur. Kini dalam semalam mesin pengrajang itu bisa menghasilkan berkwintal-kwintal tembakau rajangan

4.Mencampur dengan gula pasir
Setelah dirajang, langkah selanjutnya mencampur dengan gula pasir, rata-rata dengan perbandingan satu kwintal tembakau dicampur 10 kg gula pasir. Tujuan mencampur rajangan tembakau dengan gula pasir adalah untuk membuat lentur rajangan tembakau hingga nanti memudahkan proses penggulungannya. Dalam proses pengrajangan ini kadang ada penggarap yang “nakal” ingin mendapatkan untung banyak dengan mencampur rajangan tembakau itu dengan bahan pewarna khusus. Memang dari segi warna rajangan tembakau bisa sama dengan yang berkwalitas bagus, namun untuk aroma bisa tercium antara yang asli dan bercampur bahan-bahan lain.

5.Nganjang
Nganjang adalah proses menata rajangan tembakau pada satu tempat yang dinamakan irig untuk kemudian dijemur. Perlu ketelatenan dan juga ketrampilan dalam proses ini. Karena ada cara khusus sebelum akhirnya rajangan tembakau itu tertata rapi di atas irig. Rajangan tembakau harus tetap rapi dan memanjang sehingga setelah kering mudah untuk digulung. perlu kerapian, ketelatenan dan keseriusan pada proses ini karena rajangan tembakau harus benar-benar memanjang dan tidak terputus tiap irisannya.

6.Menjemur
Dalam proses penjemuran, selain harus sering dibolak balik, para penggarap haruslah selalu waspada terhadap cuaca, jangan sampai jemuran tembakau ini terkena sedikitpun air(hujan) karena jika kehujanan rajangan tembakau itu akan membusuk, dan tembakau tidak layak jual.

7.Pengembunan
Setelah dijemur dengan cukup kekeringannya, rajangan tembakau dalam irig itu ditaat dan ditaruh diudara terbuka semalaman yang memungkinkan terkena embun pagi. Semakin dingin cuaca maka hasil rajangan tembakau itu akan semakin baik.

8.Pengepakkan (Momot)
Setelah proses pengembunan dirasa cukup, tibalah waktunya menata rajangan tembakau dan dimasukkan dalam keranjang tembakau. Cara memasukkanpun tidak sembarang, ada beberapa langkah yang harus dilakukan penggarap, seperti menata terlebih dahulu lembaran-lembaran pelepah batang pisang kering yang nantinya digunakan sebagai penutup keranjang dan sebagainya. Adapun isi dalam satu keranjang bisa mencapai 40 sampai dengan 50 kilogram tembakau. Keranjangnya sendiri mempunyai berat kisaran 6 sampai 7 kilogram.

No comments